Titik Kehancuran
13 Jul 2022 12:48 • 1205 dibaca
By : Gus Muhammad Irfan Zidny Lc.
Sajian Utama Edisi Juli 2022
Profesional adalah syarat mutlak dalam segala hal baik primer, atau sekunder. Sangat manusiawi jika kita lebih memilih tenaga profesional ketika sekadar berkonsultasi, atau bahkan ketika meminta saran dan sebagai rujukan. Sebuah peradaban dan komunitas yang maju juga dimulai dari banyaknya tenaga profesional kedokteran misalnya. Semakin banyak Dokter spesialis disuatu rumah sakit, maka semakin tinggi pula nilai rumah sakit tersebut. Pun demikian, kehancuran suatu komunitas juga akibat maraknya oknum-oknum tidak profesional yang “memaksakan diri" mengerjakan tugas yang seharusnya dibebankan kepada tenaga profesional!
Namun agaknya, akhir-akhir ini keahlian profesional kurang dihargai! Banyak yang lebih memilih “menyeberang seorang diri disungai yang penuh buaya" dibandingkan harus “naik perahu” bersama Nahkoda yang handal. Maka tidak mengherankan jika akhirnya banyak yang “tenggelam”. Memang mengerikan, tapi sayang hanya sedikit yang mengerti jika kasusnya dalam masalah Agama. Bidang studi keilmuan sangat ketat yang harus dicapai seseorang agar bisa dikatakan Ulama seolah diabaikan!. Pendidikan yang sangat membutuhkan waktu lama agar dapat memahami (hanya memahami dan bukan mengajarkan!) Masalah-masalah dalam keilmuan islam tidak pernah dilirik!. Hasilnya? Banyak korban “malpraktek” bertebaran, bahkan memaki - maki “pasien" yang “berobat" kepada “Dokter sungguhan" yaitu para Alim Ulama!. Kami umpamakan sedikit saja, salah satu keilmuan islam adalah ilmu hadits yang didalamnya ada 80 (delapan puluh) cabang ilmu baik yang berkaitan dengan matan hadits, sanad, jauh wa ta'dil, maupun ilmu rijalul hadits yang tidak mungkin kami jabarkan disini karena butuh referensi dan waktu yang cukup panjang untuk sekadar “mengintip” betapa rumitnya menjadi “Ahli Hadits” (pangkat terendah dalam bidang Hadits). Padahal, Imam ahmad bin hanbal (Imam mazhab Hanbali) mengatakan: wahai para Ahli Fikih! Kalian adalah Dokter (dalam agama), sedangkan kami hanyalah bagaikan apoteker! (Dalam agama).
Tidak terbayang bagaimana rusaknya produk hukum yang diuraikan oleh “korban malpraktek" yang bukan seorang “apoteker” apalagi “Dokter”. Maka sudah saatnya kita semua untuk saling menghargai; membangun gedung menjadi tugas Insinyur, mengatur lalu lintas menjadi tugas Polisi, dan urusan agama islam menjadi tanggung jawab para ulama yang memiliki hak jawab serta kewajiban menjelaskan. Nabi Bersabda: jika suatu pekerjaan dilakukan oleh yang bukan ahlinya; maka tungguin kehancuran!. Shodaqo Rosulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Komentar