YATIM PIATU: SEBUAH GAGASAN
02 Mar 2024 11:48 • 742 dibaca
Sajian utama edisi februari 2024.
Oleh Gus Muhammad Irfan Zidny, Lc
Pergerakan politik di indonesia memanas terhitung sejak tiga orang putra terbaik bangsa berdampingan tiga lainnya mendeklarasikan diri dan mendaftar ke KPU sebagai calon Presiden dan wakil presiden. Adu visi, misi, gagasan dan argumen mewarnai kontestasi. Terkadang, beberapa bahkan saling gesek ranah pribadi dan privasi diri. Dinamika politik yang cepat berputar sebagai penanda berjalannya demokrasi di indonesia. Beberapa lagi melontarkan pernyataan dan pertanyaan mengenai latar belakang sang calon dan berbagai statement lainnya. Sebagian bertanya terkait pilihan tokoh lintas agama dan latar belakang; sebagai amunisi sang calon atau sekadar membuka wawasan pemilih.
Korban politik bergelimpangan dimana-mana. Sebagian besar korban tidak bersalah, dan sebagian pelaku bersembunyi seraya berteriak meminta pertolongan; "maling teriak maling". Beton sekat persaudaraan membesar, menguat dan mengeras. Kanibalisme turut mewarnai pesta politik. Zaman modern tidak ubahnya seperti alam rimba; dengan segala hukumnya. Politik di Indonesia kehilangan orangtuanya; yatim piatu.
Sesaat setelah indonesia merdeka, para tokoh berkumpul (dengan segala keterbatasan yang ada) membahas mimpi yang sudah lama terbesit dalam hati setiap jiwa di bumi pertiwi; "merdeka". Segala kemampuan dikerahkan, diantaranya politik dalam dan luar negeri demi tercapainya mimpi indah. "Bhinneka tunggal ika" menjadi KTP setiap insan!. Semua demi indonesia, bukan sekadar kemajuan partai politik dan kemaslahatan pribadi.
Politik hanya salah satu alat, tujuan utama adalah rumah besar kita; indonesia. Pisau dapur yang tajam jika diberikan kepada chef, maka sesaat kemudian kita akan menyantap hidangan lezat. Namun jika kita berikan kepada pembunuh, dalam sekejap darah akan mengalir deras!. Ada yang lebih penting dari sekadar politik: Rumah Besar Bumi Pertiwi Indonesia.
Wallahu a'lam

Komentar